Rabu, 26 Mei 2010

Amsterdam Kota Terbebas di Dunia

Senin, 3 Mei 2010
AMSTERDAM, KOMPAS.com — Amsterdam adalah kota paling bebas di dunia. Demikian hasil sebuah penelitian yang membandingkan delapan ibu kota di dunia. Namun, apabila berkaitan dengan aksi pengambilalihan gedung kosong atau pemakaian burka, Amsterdam berada pada urutan bawah.

Sekitar 500 tahun lalu, para pengikut gerakan Wederdopers membakar baju mereka lalu berkeliling di jalan-jalan Amsterdam untuk merasakan "ketelanjangan kudus". Kebebasan! Karena aksi mereka itu 19 orang dipenggal kepalanya lalu dipajang di sepanjang dinding kota. Kebebasan ternyata tidak boleh kebablasan juga di Amsterdam.

Kota dunia
Radio Nederland, Sabtu (1/5/2010), melaporkan, Komite 4/5 Mei Amsterdam (komite untuk peringatan nilai-nilai kebebasan) meminta dilakukan penyelidikan tentang kota mana di dunia yang paling bebas. Amsterdam berada pad urutan pertama mengungguli Kota Las Vegas, Rio de Janeiro, Johannesburg, Bangkok, Berlin, London, San Francisco dan Goa di India.

Berlin dan London berada pada urutan kedua dan ketiga. Apakah kebebasan merupakan ciri khas Barat? Tidak demikian, menurut Theo Deutinger, ketua tim peneliti. "Kita memang memilih kota dari beberapa benua, tetapi definisi kebebasan yang kita pakai berdasarkan nilai-nilai 'Barat'. Seorang pendeta Buddha dari China pasti punya kesimpulan lain."

Aroma mesiu
Sejarah kebebasan di Amsterdam diwarnai dengan aroma mesiu dan gas air mata. Sejak dahulu kala, warga Amsterdam sering melakukan pemberontakan dan pemogokan. Alasan yang dipakai berbeda dari masa ke masa.

Pada tahun '60-an, gerakan Dolle Mina pecah di Amsterdam yang menuntut pil KB sebagai bagian dari paket asuransi kesehatan. Pada tahun 2001, Amsterdam menjadi saksi pernikahan kaum homo pertama di dunia. Mengingat sejarah itu tidak mengherankan kalau Amsterdam berada pada urutan atas.

Amsterdam kaya, kualitas hidup tinggi, korupsi minimal dengan suasana santai dan penuh kebebasan. Namun, hal yang sama juga berlaku untuk San Francisco, Berlin, dan London. Lalu apa yang membedakan Amsterdam dari kota-kota lainnya?

Sensitif
Selain kebiasaan warga Amsterdam yang terkenal dengan kebebasan mengungkapkan apa yang mereka pikirkan, kebijakan prostitusi dan narkoba juga unik.

Bagi para turis asing, pinjam korek api kepada polisi di wilayah pelacuran untuk menyalakan rokok ganja sering menjadi hiburan tersendiri. Di Bangkok, hal yang sama bisa berujung pada hukuman mati.

Amsterdam lebih "bebas" dibandingkan dengan kota-kota lain dalam masalah-masalah sensitif, seperti eutanasia, aborsi, narkoba, prostitusi, dan pernikahan homo.

Sisi lain
Namun, dalam beberapa hal lain, para peneliti mendapatkan temuan menarik. Misalnya, Amsterdam berada pada urutan paling bawah dalam kebebasan untuk menduduki bangunan kosong (kraken). Kota-kota lain justru lebih toleran dalam hal ini. Di Rio de Janeiro dan Johannesburg, lahan-lahan kosong bisa ditempati atau istilahnya favela atau townships.

Untuk masalah keramahan terhadap kaum homoseksual, San Francisco lebih tinggi nilainya. Di Bangkok dan Goa, homoseksualitas dilindungi. Di Johannesburg, homo boleh menikah. Di Amsterdam akhir-akhir ini sering terjadi kekerasan terhadap kaum homoseksualitas.

Dalam hal kebebasan memakai simbol agama, Amsterdam berada pada urutan bawah di atas Kota Berlin. Di ibu kota Jerman tersebut, pemakaian simbol agama dilarang di semua bangunan pemerintah. Di Belanda, hal itu belum terjadi.

Kota maksiat
Selain disebut sebagai kota paling bebas, Amsterdam juga disebut sebagai kota "maksiat". Ini karena kebebasan dalam bidang prostitusi, narkoba, aborsi, dan alkohol di atas 16 tahun. Namun, di kota-kota lain hal yang sama sebenarnya juga terjadi, tetapi ditutup-tutupi.

Satu hal lagi, apa yang disebut kebebasan untuk satu pihak bisa menjadi bumerang bagi pihak lain. Lalu apakah mungkin melakukan penelitian yang obyektif?

"Penelitian ini sama sekali tidak obyektif. Tujuannya justru ingin memprovokasi. Seharusnya orang memprotes berbagai proyek yang ingin menonjolkan Amsterdam sebagai kota paling bebas," jelas Deutinger.

Deutinger mengingatkan, semua kebebasan itu bisa mengarah pada tindakan acuh tak acuh. "Apabila warga Amsterdam percaya begitu saja bahwa Kota Amsterdam paling bebas sedunia, para pembela kebebasan bisa jadi malas." (Pradaningrum Mijarto/KOMPAS)

Surat Kabar Hadapi Masa Depan Tak Pasti, Internet sebagai sumber berita kini mengalahkan kepopuleran berbagai media cetak

Jumat, 23 April 2010
Pada awal dekade 1980-an, kemunculan video-video klip di saluran televisi MTV dianggap mematikan peran radio, seperti dituangkan dalam lagu Video Killed The Radio Stars karya The Buggles.

Kini nasib sama yang menimpa radio 30 tahun lalu, menimpa industri media cetak Amerika, terutama koran-koran. Satu persatu, surat kabar di Amerika berguguran. Sebut saja The Rocky Mountain News di Denver yang harus gulung tikar setelah terbit selama 150 tahun. Sementara itu, The Seattle Post Intelligencer dan The San Francisco Chronicle kini hanya menerbitkan edisi online. Menurut sebuah data riset, meskipun orang Amerika masih membaca surat kabar, sekarang internet menjadi sumber berita yang lebih populer. "Biasanya saya tinggal membuka internet untuk membaca berita," demikian komentar yang sering diutarakan warga Amerika.


Banyak surat kabar kini harus memangkas anggaran mereka karena berkurangnya pemasukan dari iklan dan iuran langganan.
Dengan semakin banyak orang yang mengakses berita melalui telepon selular atau alat portabel lainnya, bisnis persuratkabaran menjadi usaha yang nirlaba. Salah satu surat kabar lain yang sedang mengalami kesulitan adalah The Washington Times. Penerbitnya, Jonathan Slevin mengatakan, "Anggaran perusahaan kami sudah dikurangi 40 persen. Di abad digital ini pemasukan bagi bisnis media cetak terbagi dengan perolehan media lain. Para pengiklan juga memiliki banyak alternatif."

Di sisi lain, dengan berbagai model telepon selular yang dilengkapi kamera, serta video portabel lain, yang dapat dengan mudah merekam sebuah peristiwa, setiap anggota masyarakat dapat menjadi seorang reporter. Kehadiran website seperti youtube.com, menciptakan profesi baru, “the citizen journalist” atau yang dikenal dengan sebutan pewarta warga.

Direktur Institute for Interactive Journalism di American University di Washington, Jan Schaffer, menjelaskan fenomena ini lebih lanjut. "Apa yang disampaikan para pewarta warga melalui internet tidak selalu sama dengan berita dan informasi yang disampaikan jurnalis tradisional, namun tidak berarti apa yang mereka sampaikan tidak bernilai berita; nilainya saja yang berbeda," ujar Schaffer.

Berbagai situs berita di internet menyajikan berita dengan cepat dan tanpa memungut biaya.
Jim Gaines, mantan editor majalah TIME yang mendirikan sebuah perusahaan penerbit digital, Story River Media, menilai bahwa surat kabar mengalami kesulitan mencari perannya dalam lingkungan media baru. Jim menambahkan, "Kesalahan yang dilakukan media cetak adalah menganggap internet sebagai saluran distribusi yang baru, padahal internet adalah sebuah media baru."

Shaun Quigley, seorang eksekutif di Brunner Advertising, menduga bahwa tahun 2010 akan menjadi tahun pertama di mana anggaran para pemasang iklan lebih besar untuk media online dari pada untuk media cetak. Shaun menambahkan, "Industri surat kabar dan versi online dari surat kabar tersebut saat ini sedang mengalami kegoyahan. Mereka tidak bisa menunjukkan nilai penting dari medianya kepada para pembaca, yang di lain sisi, bisa mendapatkan berita dari sumber yang lain yang lebih cepat."

Kelangsungan hidup surat kabar, yang versi cetak maupun versi online tergantung kepada kecepatan dan cara mereka menyampaikan informasi. Dalam masyarakat yang bebas, orang memiliki akses terhadap banyak media baru, sehingga koran harus bisa bersaing dengan mereka. Bisakah mereka bertahan? (Asri Poeraatmadja/VOA)