DbClix

Rabu, 26 Mei 2010

Amsterdam Kota Terbebas di Dunia

Senin, 3 Mei 2010
AMSTERDAM, KOMPAS.com — Amsterdam adalah kota paling bebas di dunia. Demikian hasil sebuah penelitian yang membandingkan delapan ibu kota di dunia. Namun, apabila berkaitan dengan aksi pengambilalihan gedung kosong atau pemakaian burka, Amsterdam berada pada urutan bawah.

Sekitar 500 tahun lalu, para pengikut gerakan Wederdopers membakar baju mereka lalu berkeliling di jalan-jalan Amsterdam untuk merasakan "ketelanjangan kudus". Kebebasan! Karena aksi mereka itu 19 orang dipenggal kepalanya lalu dipajang di sepanjang dinding kota. Kebebasan ternyata tidak boleh kebablasan juga di Amsterdam.

Kota dunia
Radio Nederland, Sabtu (1/5/2010), melaporkan, Komite 4/5 Mei Amsterdam (komite untuk peringatan nilai-nilai kebebasan) meminta dilakukan penyelidikan tentang kota mana di dunia yang paling bebas. Amsterdam berada pad urutan pertama mengungguli Kota Las Vegas, Rio de Janeiro, Johannesburg, Bangkok, Berlin, London, San Francisco dan Goa di India.

Berlin dan London berada pada urutan kedua dan ketiga. Apakah kebebasan merupakan ciri khas Barat? Tidak demikian, menurut Theo Deutinger, ketua tim peneliti. "Kita memang memilih kota dari beberapa benua, tetapi definisi kebebasan yang kita pakai berdasarkan nilai-nilai 'Barat'. Seorang pendeta Buddha dari China pasti punya kesimpulan lain."

Aroma mesiu
Sejarah kebebasan di Amsterdam diwarnai dengan aroma mesiu dan gas air mata. Sejak dahulu kala, warga Amsterdam sering melakukan pemberontakan dan pemogokan. Alasan yang dipakai berbeda dari masa ke masa.

Pada tahun '60-an, gerakan Dolle Mina pecah di Amsterdam yang menuntut pil KB sebagai bagian dari paket asuransi kesehatan. Pada tahun 2001, Amsterdam menjadi saksi pernikahan kaum homo pertama di dunia. Mengingat sejarah itu tidak mengherankan kalau Amsterdam berada pada urutan atas.

Amsterdam kaya, kualitas hidup tinggi, korupsi minimal dengan suasana santai dan penuh kebebasan. Namun, hal yang sama juga berlaku untuk San Francisco, Berlin, dan London. Lalu apa yang membedakan Amsterdam dari kota-kota lainnya?

Sensitif
Selain kebiasaan warga Amsterdam yang terkenal dengan kebebasan mengungkapkan apa yang mereka pikirkan, kebijakan prostitusi dan narkoba juga unik.

Bagi para turis asing, pinjam korek api kepada polisi di wilayah pelacuran untuk menyalakan rokok ganja sering menjadi hiburan tersendiri. Di Bangkok, hal yang sama bisa berujung pada hukuman mati.

Amsterdam lebih "bebas" dibandingkan dengan kota-kota lain dalam masalah-masalah sensitif, seperti eutanasia, aborsi, narkoba, prostitusi, dan pernikahan homo.

Sisi lain
Namun, dalam beberapa hal lain, para peneliti mendapatkan temuan menarik. Misalnya, Amsterdam berada pada urutan paling bawah dalam kebebasan untuk menduduki bangunan kosong (kraken). Kota-kota lain justru lebih toleran dalam hal ini. Di Rio de Janeiro dan Johannesburg, lahan-lahan kosong bisa ditempati atau istilahnya favela atau townships.

Untuk masalah keramahan terhadap kaum homoseksual, San Francisco lebih tinggi nilainya. Di Bangkok dan Goa, homoseksualitas dilindungi. Di Johannesburg, homo boleh menikah. Di Amsterdam akhir-akhir ini sering terjadi kekerasan terhadap kaum homoseksualitas.

Dalam hal kebebasan memakai simbol agama, Amsterdam berada pada urutan bawah di atas Kota Berlin. Di ibu kota Jerman tersebut, pemakaian simbol agama dilarang di semua bangunan pemerintah. Di Belanda, hal itu belum terjadi.

Kota maksiat
Selain disebut sebagai kota paling bebas, Amsterdam juga disebut sebagai kota "maksiat". Ini karena kebebasan dalam bidang prostitusi, narkoba, aborsi, dan alkohol di atas 16 tahun. Namun, di kota-kota lain hal yang sama sebenarnya juga terjadi, tetapi ditutup-tutupi.

Satu hal lagi, apa yang disebut kebebasan untuk satu pihak bisa menjadi bumerang bagi pihak lain. Lalu apakah mungkin melakukan penelitian yang obyektif?

"Penelitian ini sama sekali tidak obyektif. Tujuannya justru ingin memprovokasi. Seharusnya orang memprotes berbagai proyek yang ingin menonjolkan Amsterdam sebagai kota paling bebas," jelas Deutinger.

Deutinger mengingatkan, semua kebebasan itu bisa mengarah pada tindakan acuh tak acuh. "Apabila warga Amsterdam percaya begitu saja bahwa Kota Amsterdam paling bebas sedunia, para pembela kebebasan bisa jadi malas." (Pradaningrum Mijarto/KOMPAS)

Surat Kabar Hadapi Masa Depan Tak Pasti, Internet sebagai sumber berita kini mengalahkan kepopuleran berbagai media cetak

Jumat, 23 April 2010
Pada awal dekade 1980-an, kemunculan video-video klip di saluran televisi MTV dianggap mematikan peran radio, seperti dituangkan dalam lagu Video Killed The Radio Stars karya The Buggles.

Kini nasib sama yang menimpa radio 30 tahun lalu, menimpa industri media cetak Amerika, terutama koran-koran. Satu persatu, surat kabar di Amerika berguguran. Sebut saja The Rocky Mountain News di Denver yang harus gulung tikar setelah terbit selama 150 tahun. Sementara itu, The Seattle Post Intelligencer dan The San Francisco Chronicle kini hanya menerbitkan edisi online. Menurut sebuah data riset, meskipun orang Amerika masih membaca surat kabar, sekarang internet menjadi sumber berita yang lebih populer. "Biasanya saya tinggal membuka internet untuk membaca berita," demikian komentar yang sering diutarakan warga Amerika.


Banyak surat kabar kini harus memangkas anggaran mereka karena berkurangnya pemasukan dari iklan dan iuran langganan.
Dengan semakin banyak orang yang mengakses berita melalui telepon selular atau alat portabel lainnya, bisnis persuratkabaran menjadi usaha yang nirlaba. Salah satu surat kabar lain yang sedang mengalami kesulitan adalah The Washington Times. Penerbitnya, Jonathan Slevin mengatakan, "Anggaran perusahaan kami sudah dikurangi 40 persen. Di abad digital ini pemasukan bagi bisnis media cetak terbagi dengan perolehan media lain. Para pengiklan juga memiliki banyak alternatif."

Di sisi lain, dengan berbagai model telepon selular yang dilengkapi kamera, serta video portabel lain, yang dapat dengan mudah merekam sebuah peristiwa, setiap anggota masyarakat dapat menjadi seorang reporter. Kehadiran website seperti youtube.com, menciptakan profesi baru, “the citizen journalist” atau yang dikenal dengan sebutan pewarta warga.

Direktur Institute for Interactive Journalism di American University di Washington, Jan Schaffer, menjelaskan fenomena ini lebih lanjut. "Apa yang disampaikan para pewarta warga melalui internet tidak selalu sama dengan berita dan informasi yang disampaikan jurnalis tradisional, namun tidak berarti apa yang mereka sampaikan tidak bernilai berita; nilainya saja yang berbeda," ujar Schaffer.

Berbagai situs berita di internet menyajikan berita dengan cepat dan tanpa memungut biaya.
Jim Gaines, mantan editor majalah TIME yang mendirikan sebuah perusahaan penerbit digital, Story River Media, menilai bahwa surat kabar mengalami kesulitan mencari perannya dalam lingkungan media baru. Jim menambahkan, "Kesalahan yang dilakukan media cetak adalah menganggap internet sebagai saluran distribusi yang baru, padahal internet adalah sebuah media baru."

Shaun Quigley, seorang eksekutif di Brunner Advertising, menduga bahwa tahun 2010 akan menjadi tahun pertama di mana anggaran para pemasang iklan lebih besar untuk media online dari pada untuk media cetak. Shaun menambahkan, "Industri surat kabar dan versi online dari surat kabar tersebut saat ini sedang mengalami kegoyahan. Mereka tidak bisa menunjukkan nilai penting dari medianya kepada para pembaca, yang di lain sisi, bisa mendapatkan berita dari sumber yang lain yang lebih cepat."

Kelangsungan hidup surat kabar, yang versi cetak maupun versi online tergantung kepada kecepatan dan cara mereka menyampaikan informasi. Dalam masyarakat yang bebas, orang memiliki akses terhadap banyak media baru, sehingga koran harus bisa bersaing dengan mereka. Bisakah mereka bertahan? (Asri Poeraatmadja/VOA)

Drama Radio Ala Honda Jazz

JAKARTA, KOMPAS.com - Honda memulai promosi baru untuk produk andalannya di segmen hatchback Jazz. Caranya unik, menciptakan drama radio bertajuk "3Cinta" berdurasi 30 menit yang mengudara di Radio Prambors.

PT Honda Prospect Motor (HPM) yang menggagas, dalam ceritanya mengisahkan perjalanan kehidupan anak muda zaman sekarang, dengan segala problematika yang dikemas secara apik dan menghibur. Pemerannya menghadirkan seluruh personil Jazz Stars 2, yakni Vanno, Randy, Fajar, Gaby, Sarah, dan Fiona, sebagai tokoh utama dengan karakter dan ciri khas mereka masing-masing.

Radio play ini mulai mengudara 24 Mei 2010, di seluruh jaringan radio Prambors di delapan kota di Indonesia.

“Sebagai produsen Honda Jazz yang sangat disukai oleh anak muda, kami selalu memperhatikan trend kehidupan anak muda zaman sekarang. Radio play 3 Cinta sebuah terobosan baru bagi kami untuk mendekatkan diri dengan anak muda masa kini," papar Yukhiro Aoshima President Director PT Honda Prospect Motor, dalam keterangan resminya yang diterima Kompas.com, hari ini.

Dalam setiap tayangan, para pendengar juga bisa mengikuti quiz berhadiah menarik. Selain itu, setiap rekaman episode 3Cinta bisa diunduh di website www.hondaisme.com/3Cinta. Di situ terdapat rangkuman jalan cerita, update, video, diskusi, dan aktivitas menarik lainnya seputar drama.(AGK/KOMPAS)

Depok akan Tertibkan Stasiun Radio Ilegal

Depok: Pemerintah Kota Depok akan melakukan penertiban terhadap stasiun radio tidak berizin yang selama ini menimbulkan gangguan frekwensi bagi stasiun radio yang sudah mempunyai izin.

"Banyak radio gelap atau tidak berizin telah mengganggu siaran radio yang telah mempunyai izin," kata Kabid Teknologi Informasi Dinas Komunikasi dan Informasi (Diskominfo) Kota Depok Herry Pansila di Depok, Selasa (25/5). Herry mencontohkan bahwa Radio Pemkot Depok yang baru didirikan saja banyak terganggu oleh siaran radio tak berizin.

"Kami sampai empat kali pindah frekwensi, tetapi tetap saja mengalami gangguan," jelasnya. Frekwensi Radio Pemkot Depok saat ini berada di 96,6 FM yang jangkauan siarannya bisa sampai ke Bekasi dan Jakarta Selatan.

Untuk itu ia berharap masyarakat segera mengurus perizinan tersebut agar mempunyai legitimasi hukum yang kuat. "Menganggu frekwensi juga merupakan tindak pidana," jelasnya.

Selain menertibkan izin frekwensi pihaknya juga akan memantau isi dari siaran radio tersebut. "Materi siaran juga jangan sampai menghasut masyarakat untuk berbuat anarkhis ataupun berisi SARA," katanya.

Lebih lanjut ia mengharapkan agar isi siaran juga dapat bermanfaat bagi masyarakat. "Isi siaran hendaknya bersifat mendidik, sehingga para pendengar merasakan manfaat yang positif," katanya.

Herry mengatakan radio yang melakukan siaran banyak dari kalangan radio komunitas dan radio komersil. Kebanyakan radio komunitas itu tidak mempunyai izin. (Ant/ICH/Metropolitan / Selasa, 25 Mei 2010 14:34 WIB, Metrotvnews.com)

Kamis, 19 Februari 2009

Sumbang Korban Kebakaran Dapat Satu Lagu

BENCANA alam terburuk dalam sejarah Australia, berupa kebakaran semak di negara bagian Victoria, telah menggerakkan penduduk negeri itu untuk berlomba-lomba membantu para korban yang kehilangan harta benda dan orang-orang terkasih.

Semangat menyumbangkan bantuan berupa uang, tenaga, makanan, dan barang-barang terus menguat sejak hari pertama kebakaran terjadi, Sabtu (7/2).

Berbagai cara dilakukan untuk menggalang bantuan, salah satunya adalah lewat program di radio swasta yang bersiaran di Brisbane. Radio menerima telepon dari para pendengar yang ingin membantu para korban kebakaran, dan menerima dana bantuan yang kemudian disalurkan ke Palang Merah Australia. Sebagai pengganti, penyiar memutarkan lagu yang diminta oleh pemberi donasi.

Salah satu dari penyumbang adalah gadis kecil yang masih duduk di sekolah dasar. Ia menyumbangkan 50 dollar Australia, uang tabungan yang ia kumpulkan selama setahun.
Bila pemberi donasi adalah perusahaan-perusahaan kecil dan menengah, penyiar membacakan atau membuatkan iklan singkat tentang perusahaan tersebut.

Hingga Rabu (11/2), dana yang terkumpul lewat siaran radio 105,3 FM, misalnya, sudah melampaui 2 juta dollar Australia.

Telepon dari para pendengar ke radio berlangsung seolah tak ada henti, hampir sepanjang hari radio-radio siaran Australia di Brisbane menggalang dana.

Di radio para pendengar juga melemparkan ide-ide bentuk bantuan selain uang, dan salah satu ide yang banyak didukung pendengar adalah menyumbangkan mobil karavan bagi para korban yang kini tinggal di tenda-tenda penampungan.

Ide ini dipandang tepat terutama saat rekonstruksi rumah yang terbakar dalam kebakaran semak, "Supaya para korban tidak berkumpul semua di kota, dan mereka tetap nyaman sebelum menempati rumah baru," ujar salah satu pengusul. (Yuz/Kompas.com)

Rihanna Dipukul, Pendengar Radio Bereaksi

GARA-gara Rihanna dipukul oleh kekasihnya Chris Brown beberapa waktu lalu, berdampak kepada penyanyi Chris Brown itu sendiri.

Beberapa satasiun radio menarik lagu-lagu Chris Brown dari playlist untuk tidak diputar dalam kurun waktu yang belum ditentukan. Tidak terhadap lagu-lagunya tetapi juga berdampak kepada penayangan iklan dengan memunculkan sosok Chris.

Di Amerika, lagu-lagu Chris ditarik dari playlist radio. Salah satu radio yang melakukannya yaitu WNOU-FM di Indianapolis, Indiana. Para pendengar radio tersebut meminta agar lagu Chris untuk sementara tidak diputar.

"Pendengar RadioNOW 100.9 telah meminta untuk sementara menahan lagu-lagu Chris Brown dari airplay. Kami tak mendukung aksi kekerasan. Aksi kekerasan, pemukulan dan tindakan tersebut adalah isu yang serius di lingkungan kami," tulis situs resmi radio tersebut dikutip detikhot dari Aceshowbiz, Kamis (12/2/2009).

Sementara Chris mulai kehilangan simpati dari pecinta musik, ia pun kehilangan beberapa iklan dan pekerjaan. Produk 'Got Milk?' telah menunda semua bentuk kerjasama mereka.

"Kami telah memutuskan untuk menahan iklan yang menampilkan Brown dan semua hal yang berkaitan dengannya hingga masalah ini terselesaikan," ujar juru bicara 'Got Milk?'.

Sejak kejadian pemukulan terhadap Rihanna berlangsung 8 Februari lalu, keberadaan Chris tak diketahui. Namun sumber sempat melihat kekasih Rihanna itu berada di Hard Rock Hotel dan Casino di Las Vegas. (yuz/detikhot)

Rabu, 11 Februari 2009

Kini, "Tren" Pendengar Terhadap Lagu, Dibanding Obrolan Penyiar

SUDAH setahun ini, beberapa radio di kota-kota besar mencoba untuk mempersempit keterlibatan penyiar dalam siarannya dibandingkan memutarkan lagu. Bayangkan sekarang ini, penyiar dibatasi berbicaranya hanya 1 menit saja, kemudian lagu lah yang lebih dari 4 menit di putar berturut-turut sebanyak 3 lagu bahkan lebih.

Alasannya adalah "tren pendengar" yang terjadi menuntut agar penyiar lebih sedikit ngomongnya dibandingkan lagu. Dengan alasan pendengar juga bahwa memutar lagu atas permintaan pendengar kini menjadi andalan radio saat ini.

Tapi apakah tren tersebut akan menjadi andalah sebuah station dalam menggrap pendengar yang akhirnya mengubah kebijakan sebuah station radio ?

Ikuti penuturan dua penyiar di bawah ini.

Tony Thamrin:
Minggu kemaren gw sempet radio tour ke Jakarta buat ngunjungin temen2 lama di UFM, JAKFM, Female, Prambors dan juga HRFM. Setelah mengamati pola siaran mereka, ternyata ada sebuah kecenderungan (yg katanya mulai diterapin sekitar taon lalu), hampir semua penyiar radio udah makin “dibatasi” kebebasannya dalam bersiaran. Pada intinya “More Music Less Talk”. Lagu jadi andalan dan kalo bisa si penyiar ngomong dengan tempo sesingkat2nya. Djakarta toedjoeh belas agoestoes….uuups, apaan sih!


Nah, sekarang yg jadi pertanyaan, sebenernya apa sih yang ngebuat pergeseran itu? Jawabannya adalah pendengar! Pendengar cenderung lebih doyan dengerin lagu2 aja ketimbang penyiarnya ngoceh di microphone. Sekarang radiolah yang disetir oleh pendengar. Kalo dulunya pendengar masih bisa disetir oleh stasiun radio, mulai dari penentuan chart lagu (dulu banyak stasiun radio yang berhasil menyetir selera musik audience-nya, dan skrg justru pendengar yg nentuin layak apa gak lagu itu masih nongkrong disbuah chart). Sampe ke jaman sekarang, dimana kehadiran penyiar radio udah dikalahin dengan sesuatu yang bernama lagu, tembang, tracks,…u name it!!!

Bayangin! Durasi ngomong dibatasin cuman semenit! Kalo ngomong dua menit itu udah kebanyakan. Dulu gw emang sempet dapet ilmu berbicara diradio itu katanya harus KISS (Keep It Short Simple). Makanya baca adlibs 9 detik gw pernah lakukan (waktu di Prambors Jakarta 1998 dan gw inget banget baca adlib itu di intro lagu Boyzone hehehe). Jujur asyik kalo ngomong pendek2. Dulu kita berlomba2 siapa penyiar yang bisa ngobrol diatas intro lagu yang cuman 10-15 detik. And it works!

Itu dulu…..waktu obrolan penyiar masih jaya2nya dimana banyak pendengar yang tersihir oleh gaya berbicara sang penyiar. Tapi jaman sekarang berubah, pendengar lebih banyak terhipnotis oleh lagu ketimbang “persembahan” si penyiar tadi. Gw pribadi ngerasa sbenernya radio show yg bagus adalah gabungan equal antara sang penyiar dan lagu. Tapi ada satu sisi dimana gw juga harus nampilin info yg kalo dibaca singkat justru gak nyampe misinya. Wah kalo gini terus apa bedanya dengan beli CD aja trus denger satu album??? Apa gunanya radio?? Penyiar hanya baca adlib?? Penyiar hanya nyampein info singkat tiga baris???

Sebenernya kalo mo jujur, dengan adanya trend ini, sang penyiar justru makin ngerasa ringan melakukan kerjaannya. Udah kerja ringan dibayar mahal pula hehehehe…. Tapi di sisi laen, gw yg notabene banci ngomong, ngerasa makin dibatasi kebebasannya buat berekspresi.

Orgasme udah gak didapetin lagi dalam dunia siaran. Salah satu temen gw sempet curhat :
“man, tiga lagu ngomong, itu juga ngomong harus dibatesin durasinya. Gw sempet punya program radio play buatan sendiri langsung gak diijinin karena emang tren sekarang ya kayak gini!”

Selain itu si temen gw ini juga bilang :

“Gak lama lagi kita bakal pake software siaran yang agak aneh. Software itu makin ngebatasin obrolan penyiar. Jadi kalo lagu abis, penyiar ngomong, dan pas semenit, lagu berikutnya langsung jalan ndiri tanpa kita pencet play!”

Hmmmm. Mau sampe kapankah tren seperti ini? Ato ini Cuma siklus sesaat yang akhirnya (hopefully!) akan mengembalikan lagi penyiar ke “harkat” sebenarnya?

Dewi Utami:
wow, that's news!
di volare sendiri, masih bersikukuh dengan "pola lama" yaitu berusaha memperkenalkan lagu bagus ke pendengar sesuai format radio kami. yang dimaksudkan jangan sampai terjadi perubahan seperti yang tony bilang, "dulu banyak stasiun radio yang berhasil menyetir selera musik audience-nya, dan skrg justru pendengar yg nentuin layak apa gak lagu itu masih nongkrong disbuah chart".

ada pengalaman yang ingin saya bagi, di 2009 ini, kami justru menghentikan kebebasan pendengar di program rekues harian berdurasi 3 jam untuk memilih lagu, namun kami batasi dengan playlist yang sudah dipersiapkan.

kenapa berani? bukankah katanya selera pendengar yang jadi panutan sekarang?mungkin, tapi hal itu hanya membuat radio kami tak bedanya dengan radio lain dan TV, dan mp3 yang orang-orang beli bajakannya/diunduh dari internet. saya sependapat sekali waktu tony bilang, "Wah kalo gini terus apa bedanya dengan beli CD aja trus denger satu album??? Apa gunanya radio??"

untung saja, kami masih punya pendengar setia yang rajin mengkritik, yang berani berulang kali mengingatkan bahwa program rekues kami itu sungguh melencengkan format musik yang sudah diterapkan.

sempat ragu waktu mau menerapkan playlist di acara rekues, karena pendengar jadinya hanya bisa kirim salam tanpa bisa memilih lagu yang betul-betul mereka inginkan, tapi syukurlah... sebulan sudah lewat, hanya dukungan positif yang kami terima, bukannya kritikan.

terus, masalah penyiar yang dibatasi ngomongnya... bisa jadi memang itu sebuah trend, yang tampaknya berlaku di kota besar yah? di pontianak belum seperti itu... tapi kalau harus memang ingin menghadirkan musik lebih banyak, ya mendingan jangan pasang penyiar sekalian di jam-jam tertentu. lebih hemat toh? :)
salam dari pontianak (Pandu)

Selasa, 03 Februari 2009

Wapres: Radio Lebih Unggul Dibanding Televisi

ZAMAN sudah berubah. Kini radio tidak lagi menjadi acuan utama masyarakat dalam mencari informasi. Namun Wakil Presiden M. Jusuf Kalla mengatakan, radio punya kelebihan dibanding koran dan televisi. "Radio memiliki sistem informasi tercepat. Dengan telepon seluler kecil saja, radio sudah bisa siaran ke seluruh Indonesia," kata Kalla dalam peringatan Hari Radio ke-63 di auditorium Gedung Radio Republik Indonesia, Kamis (11/9/2008).

Radio, kata Kalla, juga memiliki fleksibilitas tinggi, murah ongkos, dan murah biaya operasional. "Nonton televisi harus duduk, sementara mendengarkan radio bisa di mana saja. Di rumah, di mobil, atau pun di sawah. Pakai radio kecil yang harganya Rp 20 ribu, bisa dikantongi," kata Kalla.

Ia menambahkan, dulu radio menjadi primadona. Presiden pun pidato lewat radio. Dulu semua artis terkenal juga lewat bintang radio. "Itu sudah hebat. Mau keroncong, seriosa, semua harus terkenal lewat radio. Soalnya, tidak ada cek dan ricek zaman dulu," katanya.

Kalau tidak sempat menonton bola di televisi, tambahnya, pasti mendengarkannya di radio lewat laporan pandangan mata penyiar. "Bahkan kalau penyiarnya salah sebut pemain, kita tidak tahu, kan?" kata Kalla disambut tawa hadirin.

"Televisi tidak bisa seperti itu. Itulah enaknya penyiar radio. Kadang-kadang tidak tegang, dikasih tegang, itu terserah dia," kata Wapres Kalla.

Kalla menyebut hal itu sebagai kelebihan masa lalu. Namun yang bisa mengembalikan kejayaan radio, kata Kalla, adalah inovasi. "Sekali lagi, radio tetap dibutuhkan. Mau berapa stasiun televisi, tapi ada 2 ribu radio," katanya. Perkembangan teknologi bisa dibeli tapi inovasi tidak bisa. Ia juga mengingatkan, RRI sudah didukung oleh modal, aset, dan dukungan pemerintah. Karena itu, RRI harus melakukan inovasi. "Harus jadi 'bench marking' dengan berita tercepat," katanya. (Yz/Tempo/ND)

Radio Digital Mulai Menggema

PEMERINTAH Inggris akan mematikan radio-radio analog yang memakai frekuensi AM dan FM. Mereka mulai 2015 akan beralih ke radio digital. Demikian dikatakan Lord Carter, Menteri Industri Komunikasi Inggris.Ini adalah lompatan jauh dari kebijakan pemerintah Inggris.

Soalnya saat ini baru 18,3 persen dari total penduduk yang mendengarkan radio digital dalam tiga bula terakhir. Angka itu turun dari kuartal sebelumnya, yakni 18,7 persen. Sementara jumlah pendengar radio analog masih tumbuh dari 68,4 persen menjadi 68,6 persen.

Namun, banyak pendengar yang mengeluhkan kualitas siaran yang kerap terputus.Dengan kebijakan baru itu stasiun-stasiun radio harus berjuang memperbarui teknologinya. GCap, misalnya, sejak tahun lalu telah merintis upaya itu.

Mereka mengumumkan akan murni siaran digital. Hal sama dilakukan oleh Channel 4."Radio AM dan FM tak punya masa depan," kata Carter seperti dikutip The Telegraph.

Saat ini sekitar 86 persen wilayah Inggris yang ditinggali penduduk telah dijangkau sinyal siaran digital. Namun, jumlah radio digital hanya 8,5 juta unit. Bandingkan dengan radio AM atau FM yang jumlahnya masih 100 juta hingga 150 juta unit. Rencana migrasi ke radio digital ini akan dilakukan bertahap. Mereka akan melakukan besar-besaran setelah pendengar radio digital porsinya mencapai 50 persen dan area cakupan sinyal radio digital telah menjangkau 90 persen populasi. (YZ/Tempo/BS)

Banyak Kasus Radio Lebih Efektif Berkomunikasi Dengan Pendengarnya

MESKIPUN berita ini telah lama terjadi, mungkin yang menarik di simak adalah betapa peran radio sangat besar dalam kehidupan masyarakat khususnya terhadap pendengar. Selain mereka dapat mendengarkan musik kesayangannya, mereka juga mendengarkan informasi-informasi yang terupdate dalam hitungan menit bahkan detik. Sehingga kejadian-kejadian atau peristiwa tidak terlewatkan.

Media radio sebenarnya memiliki potensi menggerakkan seseorang dalam sekejab, jika kondisi memungkinkan dalam hal itu. Dibandingkan dengan media lainnya, peristiwa-peristiwa update tidak langsung berkomunikasi dengan para audience-nya.

Beberapa kasus yang sering terjadi adalah bagaimana hebatnya komunikasi antara radio dengan pendengarnya. Kasus-kasus seperti kehilangan, orang hilang yang kemudian ditemukan kembali, kejahatan tidak terlepas dari komunikasi dua arah antara radio dengan pendengarnya.

Simak berita dari Surabaya ini, yang dilaporkan detik.com Surabaya.

PENGHADANGAN pelaku kejahatan di Gerbang Tol Waru Utama membuahkan hasil. Seorang pemuda dan mobil hasil penipuannya dengan mudah ditangkap petugas PJR Tol di Gerbang Tol Waru Utama."Kita sudah melakukan penghadangan dan pelaku sudah tertangkap," kata Gatot, petugas informasi komunikasi PT Jasa Marga Surabaya-Gempol kepada detiksurabaya.com, Kamis (9/10/2008) pukul 15:05 WIB.

Mobil Avanza warna Kuning kehijau-hijauan B 1352 AD itu dilaporan Wiko kepada radio SSFM telah dilarikan oleh seorang pemuda yang mengaku bernama Chandra. Mobil milik salah satu rencar itu menurut Wiko akan disewa oleh Chandra yang mengaku sebagai Wakil Manajer Telkomsel Graha Pena.

Wiko yang menjadi sopir oleh Chandra dari Sedati Sidoarjo diminta mengantar keliling Kota Surabaya. Setelah puas keliling, Chandra mengajak ke Sidoarjo.Di Sidoarjo, Wiko dan Chandra berhenti di sebuah tempat makan di sekitar Pertokoan Matahari, Jl Gajah Mada Sidoarjo.

Namun saat makan itu, Chandra meminta kunci mobil dengan alasan ponselnya tertinggal di dalam mobil. Kunci diserahkan dan kemudian perasaan Wiko tidak enak.Setelah disusul, ternyata mobilnya sudah raib. Wiko yang dalam kondisi panik itu langsung menghubungi Radio SSFM. Dari informasi itu, sejumlah pendengar langsung mengudara berbagi informasi.

Dilaporkan mobil itu terlihat di Jalan Tol Sidoarjo-Waru Utama. Para pendengar SSFM tersebut secara bergantian melaporkan posisi mobil yang dilarikan Chandra.Dan dengan mudah, petugas PJR Tol langsung membekuk pelaku dan digelandang ke Posko PJR. Sebelum ditangkap, pelaku terjebak antrean kendaraan yang akan keluar gerbang Tol Waru Utama. Setelah dikepung, pelaku pun langsung lemas.

Banyak kasus-kasus atau peristiwa seperti di atas yang belum terblowup di permukaan. Padahal, jika radio benar-benar dijadikan sebagai sarana promosi, kampanye dan lainnya, sangatlah mungkin efektif sekali. (Yz/gik/gik)

Kamis, 29 Januari 2009

Komunitas Radio Muslim Meningkat

KOMUNITAS pendengar radio Muslim Suara Qalbu di Bangka meningkat sejalan makin beragam dan meningkatnya kualitas program serta konsistensi dalam menyiarkan program-program dakwah.

Pembina radio Suara Qalbu Bangka, Hasan Rumata, di Pangkalpinang, Sabtu, menyatakan, setiap hari belasan ribu orang mendengarkan siaran radio yang dimulai menjelang Subuh hingga pukul 23.00 WIB malam itu atau meningkat duakali lipat dibanding setahun lalu.

"Pendengarnya beragam mulai dari anak-anak hingga orang tua. Mereka merasakan manfaat mendengarkan radio berupa peningkatan keimanan kepada Allah SWT," ujar ketua forum umat Islam Provinsi Bangka Belitung itu.

Radio yang mengudara di frekuensi 104.3 FM tersebut menyampaikan materi siaran berupa program menjelang fajar, kuliah subuh, dhuham acara dangdut, tembang kenangan, kuliah senja, dari dai untuk umat, pengajian menjelang magrib, dialog tokoh nasional serta siraman rohani malam.

Hasan menyatakan manajemen radio sudah mampu mendanai kegiatan sendiri dari pemasukan berbagai iklan serta bantuan simpatisan.

"Sekarang iklan kita cukup banyak mulai dari bank syariah, Telkom, toko, rumah makan, perusahaan air minum, sepeda motor dan lainnya dengan jangkauan siaran hingga Bangka Tengah dan Bangka Barat," ujarnya.

Selain itu, manajemen juga seringkali mendapat iklan ucapan selamat, iklan parpol dan iklan duka dari berbagai kalangan yang ingin pesannya bisa didengar komunitas radio muslim tersebut.

Ia mengatakan, respon dari pendengar sangat bagus. Bahkan pada acara tertentu seperti pawai 17 Agustus, komunitas radio ikut serta berpawai dalam mempromosikan radio tersebut dan mendanai sendiri kegiatanya.

Kini manajemen radio Suara Qalbu juga ikut serta membantu anak miskin yang putus sekolah dengan mendanai pendidikan mereka di pesantren di Yogyakarta.

"Dananya berasal dari bantuan penggemar yang berkeinginan agar warga kurang mampu bisa mengenyam pendidikan sebagai bekal mereka kelak dalam berinteraksi dimasyarakat," ujarnya.

Hasan berharap radio yang dikelola PT Suara Qalbu Radio itu bisa tetap eksis dan bahkan meningkat baik jangkauan maupun program-programnya dalam memberikan pencerahan dan kerukunan antarumat. (ANTARA News)

Bosan Bangun Pagi, Desta 'Club Eighties' Stop Jadi Penyiar Radio

Jenuh dengan rutinitas yang itu-itu lagi bisa membuat seseorang mengambil seribu langkah. Seperti Desta 'Club Eighties' yang stop jadi penyiar radio Prambors gara-gara bosan bangun pagi.

"Bosen udah 6 tahun, bosen juga karena sering bangun pagi, setiap hari harus bangun pagi," ujarnya santai saat ditemui di gedung Trans TV di Jl Kapten Tendean, Jakarta Selatan, baru-baru ini.

Sudah sebulan terakhir Desta memang tidak lagi cuap-cuap menghibur para pendengar Prambors. Walau begitu Desta mengaku sedih hengkang dari Prambors. Banyak kenangan indah yang ia alami saat masih di Prambors. Tak hanya itu, profesi penyiar radio juga pertama kali ia geluti di radio legendaris tersebut.

Tapi bukan berarti Desta bisa gembira bisa bangun siang hari. Karena ia dikontrak menjadi penyiar program 'Dentings' di Trans TV yang tayang di pagi hari. Mau tak mau pria kocak ini kembali harus bangun tidur saat matahari masih terlelap.

Desta bersama Sandra Dewi dan Ringgo Agus Rahman akan menghibur pemirsanya setiap senin hingga jumat setiap pukul 07.30 WIB. (Detikcom)

30 Stasiun Radio Ilegal di Kaltim Akan Ditertibkan

Waduh !!!, Penertiban terhadap stasiun radio FM ilegal terganjal dana operasional yang belum cair. Dana yang diajukan melalui APBD tersebut, semata-mata diperuntukkan untuk melakukan penertiban atas 30 stasiun radio FM yang ilegal.

"Pasti kita tertibkan. Tapi sementara tertunda karena dana dari APBD Kaltim yang kami usulkan Rp 100 juta antara lain untuk kegiatan penertiban belum dicairkan," kata Ketua KPID Kaltim Khaerul Akbar ketika dihubungi detikcom, Rabu (28/01/2009).

Dikatakan Khaerul, penggunaan frekuensi di Samarinda hanya diperkenankan hingga 14 kanal yang telah diisi stasiun radio yang mengantongi izin siaran. Penggunaan kanal frekuensi di luar ketentuan, khususnya di Samarinda diakui Khareul cukup merepotkan.

"Karena siaran mereka terkadang hanya malam, siang dan sore hari. Bahkan ada saja yang sudah kita tertibkan, ternyata masih siaran," imbuhnya.

Bagi yang membandel, kata Khaerul, KPID tidak akan segan mengenakan denda hingga menyeret pemilik perangkat pemancar hingga ke pengadilan. Dikatakan ilegal lantaran 30 stasiun radio tidak mengantongi rekomendasi dan kelayakan dari Depkominfo.

(YZ/Detikcom)

Kamis, 22 Januari 2009

Presiden Siaran Langsung di RRI

PRESIDEN Susilo Bambang Yudhoyono didampingi oleh Ibu Ani Yudhoyono melakukan siaran langsung dialog interaktif di Radio Republik Indonesia (RRI).

Dialog itu dilakukan di Ruang VIP Gedung RRI, Jalan Medan Merdeka Barat, Jakarta, Jumat malam, dipandu oleh penyiar Eko Wahyuwanto.

Presiden Yudhoyono yang memakai kemaja biru senada dengan Ibu Ani melakukan dialog interaktif dengan pendengar RRI di beberapa wilayah terdepan di Indonesia, darii Sabang hingga Merauke selama setengah jam.

Pendengar RRI mulai dari Sabang, Merauke, Kepulauan Talau, hingga Pulau Rote mengeluhkan banyak hal kepada Presiden.

Anwar Fuady dari Sabang menyampakan sarana transportasi laut yang tidak layak di Pulau Sabang, sedangkan Agustina di Merauke dan Nurdiana di Pulau Rote mengeluhkan kelangkaan pupuk di tempat mereka.

Kepada para pendengar RRI yang berdialog interaktif melalui saluran telepon, Presiden berjanji pemerintah akan meningkatkan pembangunan infrastruktur di kawasan terpencil serta mengatasi masalah kelangkaan pupuk.

Selain disiarkan secara langsung ke seluruh pelosok Nusantara, acara dialog interaktif Presiden dengan pendengar RRI itu juga ditayangkan melalui layar lebar yang diletakkan di sisi Jalan Medan Merdeka Barat.

Para warga yang melintas sempat berhenti sejenak menyimak dialog tersebut bersama dengan para pedagang kaki lima.

Setelah berdialog dengan pendengar RRI, Presiden Yudhoyono kemudian melakukan kunjungan ke Studio RRI Pro3.

Kehadiran Presiden Yudhoyono di RRI dalam rangka persemian revitalisasi pemancar dan studio jaringan berita nasional Pro 3.

Usai acara peresmian, Presiden bersama Ibu Ani Yudhoyono direncanakan menyaksikan pagelaran wayang kulit lakon "Wahyu Maputorongo" yang didalangi oleh Ki Manteb Sudarsono. (AntaraNews)

Indonesian Radio Awards 2008

Kamis, 11 September 2008

RADIO JARINGAN DAN LIPUTAN MUDIK

DI setiap lebaran sejumlah radio jaringan akan mempunyai kerja besar dengan menyelenggarakan peliputan arus mudik dan arus balik. Bahkan, sebuah radio berjejaring besar menyebut program ini akan direlay oleh sekian puluh radio dan didukung oleh sekian ratus reporter. Dahsat memang. Jutaan pemudik akan memperoleh informasi mengenai kondisi terkini jalur yang akan mereka lalui. Mereka akan akan dipandu melalui radio mitra yang di sepanjang jalur mudik [ada yang memulai dari Lampung hingga Denpasar].

Untuk menyelenggarakan program ini radio mitra di daerah secara langsung harus menyediakan ‘space’ untuk merelay siaran tersebut. Tidak hanya itu, radio mitra ini juga dilibatkan dengan melibatkan kru atau reporter untuk melaporkan kondisi di daerahnya. Keterlibatan stasiun – stasiun radio mitra dalam program semacam ini juga akan membuat lebih dikenal karena logo dan nama mereka akan dicantumkan dalam booklet yang diberikan kepada pemudik. Selain itu, nama mereka secara berkala juga disebut di saat siaran relay berlangsung.

Begitulah program ini, memang menjadi agenda tahunan yang membutuhkan tenaga ekstra. Ini tak lain karena biasanya program semacam ini berlangsung dari dinihari ke dinihari atau 24 jam. Jadi, pada waktu – waktu tertentu pemudik dapat senantiasa memproleh informasi setiap saat mulai dari kondisi jalan yang akan mereka lalui. Program ini juga didukung dengan layanan 24 jam untuk menginformasikan mengenai SPBU, rumah sakit, bengkel, hingga rumah makan yang terdekat. Selain itu, radio penyelenggara juga menyebar brosur yang berisi beragam informasi layanan termasuk stasiun radio yang menyiarkan program mereka.

Informasi ini diharapkan dapat membantu pemudik untuk menemukan gelombang frekuensi stasiun radio yang terdekat untuk memantau informasi mudik yang dipancarulangkan radio mitra di daerah. Dengan demikian, para pemudik dapat selalu memantau perkembangan informasi terkini hingga kampung halaman atau sebaliknya. Kondisi semacam ini, mengharuskan stasiun penyelenggara relay untuk mencari radio mitra yang sedapat mungkin satu format atau paling tidak mendekati format siaran mereka. Ini untuk menjaga agar para pemudik dapat terus memantau siaran mereka. Bisa dibayangkan jika si penyelenggara biasa memutar adult contemporary lalu bermitra dengan stasiun radio dangdut - misalnya. Para pemudik yang terbiasa mendengar siaran mereka di Jakarta, di perjalanan mudik kemudian mencari gelombang stasiun radio mitra, akan kecewa jika stasiun radio mendengar sesuatu yang kurang biasa. Dari pada tak nyaman – bisa jadi — lebih baik pindah gelombang.

Ini baru soal format musik. Program ini juga melahirkan reporter dadakan, sebab tidak semua radio mitra di daerah mempunyai reporter sebagaimana dimiliki oleh stasiun radio yang terbiasa dengan liputan atau reportase. Jika demikian, akan lain pula penyampaiannya atau yang terbiasa reportase dan yang kurang terbiasa menyampaikan laporan. Dengan kata lain, untuk mempertahankan pemudik agar tetap bertahan di satu program yang disiarkan banyak radio bukan perkara mudah. Namun, hal ini bukan tidak mungkin dilakukan dengan pendekatan solusi.

Pertama, peliputan ini akan lebih optimal jika radio partner di daerah yang mempunyai format – paling tidak untuk musik yang sejenis, atau jika penyelenggara relay radio berita yang tidak memutar musik dapat memutar lagu yang digemari target audience mereka. Bermitra dengan stasiun radio yang mempunyai program berita akan lebih baik, karena memiliki reporter yang dapat mendukung penuh program ini. Kedua, bermitra dengan stasiun radio yang berkerja di jalur FM akan lebih memudahkan mendengar selalu memantau perkembangan informasi di jalur mudik . Bekerja sama dengan radio di luar jalur FM akan menyulitkan pendengar [pemudik], karena mereka harus mengubah gelombang dan mencari gelombang, disamping kualitas suara yang kurang mendukung. Ketiga, program pendukung seperti layanan informasi dan penyebaran booklet program ke pemudik harus lebih masive – hingga pemudik merasa dimudahkan.

Sementara itu bagi stasiun radio mitra juga perlu mempertimbangkan sejumlah hal jika berkeinginan terlibat dalam sindikasi program semacam ini. Ini antara lain dikarenakan stasiun radio mitra di daerah juga tidak semua siaran 24 jam. Padahal, program ini mengharuskan mereka menambah jam siaran. Belum lagi dari sisi marketing dan program. Tak dapat dihindari pemasukan dari program ini akan dihadapkan pada berapa lama program tersebut akan menghabiskan slot iklan setiap jamnya. Selain itu, perlu pula penyesuaian program yang sudah ada harus dengan hadirnya program tahunan ini.

Ditulis oleh: Ariyanto - broadcaster sebuah radio di Solo

Senin, 08 September 2008

Laporan yang Berguna Bagi Pemudik

SUDAH menjadi kebiasaan, sekian hari menjelang hari Lebaran sampai sekian hari sesudah Lebaran, pemudik akan beramai-ramai meninggalkan kota yang selama ini menjadi tempat untuk mencari nafkah menuju kampung halamannya. Jumlah pemudik yang tidak sedikit akan memenuhi jalan-jalan raya di sepanjang pulau Jawa, baik di jalur pantai utara maupun jalur pantai selatan.

Seorang rekan wartawan dari sebuah majalah otomotif baru-baru ini mengirimkan email, yang berisi beberapa pertanyaan wawancara mengenai kesiapan radio dalam menyampaikan liputan mengenai arus mudik dan arus balik. Pertanyaan-pertanyaan dalam email itu memicu munculnya pertanyaan di benak saya “Masih perlukah sebuah radio menyiarkan informasi kepadatan arus mudik dan arus balik?”.

Kondisi yang rutin terjadi setiap tahun, tentunya bukan lagi hal yang mengherankan. Apa yang harus dilakukan radio agar informasi lokalnya bisa menjadi lebih bermanfaat? Apalagi kondisi yang terjadi adalah:

- Kemacetan sudah biasa terjadi sepanjang arus mudik dan balik. Sebagai pembanding, apakah akan menjadi informasi yang menarik jika kita melaporkan kemacetan di sebuah ruas jalan yang memang setiap hari terjadi? Justru sebaliknya akan menjadi berita kalau jalan yang biasanya macet suatu saat tidak macet.

- Televisi dan media cetak banyak yang sudah menginformasikan daerah-daerah rawan macet, termasuk jalan-jalan alternatif yang bisa dilalui.

- Sumber informasi diluar media konvensional semakin beragam, mulai dari leaflet peta dan panduan mudik yang disebar oleh berbagai organisasi dan produk, layanan sms, petugas polisi dan volunteer di lapangan, papan petunjuk jalan dan lain sebagainya.

- Bagi mereka yang biasa mudik, sudah mengetahui daerah atau jalanan yang biasa mereka lalui setiap tahun.

Namun demikian, bukan berarti radio tidak perlu memberikan informasi berkaitan dengan tradisi mudik.

Yang bisa dilakukan radio diantaranya adalah:
- memberikan siaran yang menghibur bagi mereka yang melalui atau singgah di kota kita.
- memberikan informasi lalu lintas yang tidak biasa terjadi, seperti kecelakaan, perubahan jalur dan lain sebagainya. Jangan hanya menginformasikan kepadatan arus lalu lintas, karena selama arus mudik dan balik, hal ini adalah hal biasa yang sudah diketahui oleh pendengar.
- memberikan informasi tempat wisata, tempat istirahat dan lain sebagainya yang lebih bermanfaat bagi pendengar.
- dan berbagai ide informasi dan program kreatif lainnya. (radioclinic-Alex Santosa)

Jumat, 29 Agustus 2008

Sang Penghasut

BEBERAPA waktu lalu seorang rekan mengajak berdiskusi soal keluhan-keluhan yang dijumpainya saat menghadapi pertanyaan klien. Mungkin saja kasus yang sama pernah juga dialami oleh tenaga penjualan kita. Salah satu masalah yang dihadapi adalah, klien enggan beriklan di radio karena radio dianggap tidak bisa memvisualkan bentuk produknya dan lebih memilih beriklan melalui koran, menyebarkan leaflet atau bahkan melalui televisi. Dalam keadaan seperti ini, yang perlu dijelaskan ke klien, diantaranya adalah:

1. Iklan radio bisa difungsikan untuk mengingatkan keberadaan produk kepada pendengar. Kekuatan beriklan di radio tergantung pada konsistensi dan frekwensi penyiaran. Karena harganya yang relatif ekonomis dibandingkan dengan media cetak dan televisi, klien dapat memasang iklan di radio lebih banyak. Semakin sering iklan disiarkan akan semakin banyak pula pendengar yang akan mengetahui produk tersebut. Sehingga jika suatu saat mereka memerlukan barang sejenis, mereka akan teringat pada produk klien kita.

2. Beriklan di radio tidak harus selalu menonjolkan bentuk produk. Masih banyak hal lain yang bisa dipromosikan, misalnya dari sisi harga, keistimewaan, paket promo yang sedang berlangsung dan lain sebagainya. Bahkan melalui Public Service Announcement atau iklan layanan masyarakat pun kita bisa merayu pendengar.

3. Melalui talkshow di media radio, klien sangat bisa memaparkan product knowledge dan keunggulan produk tersebut. Bahkan klien bisa langsung berinteraksi dengan calon pembelinya. Selain menyediakan waktu yang lebih luas untuk memaparkan keisitimewaan produk, harga ekonomis dan bisa berinteraksi langsung dengan pendengar, keuntungan lain dari talkshow adalah sifatnya yang personal dan intimate.

Melalui talkshow bisa dibina korelasi YOU and ME antara klien sebagai pemilik produk dan pendengar sebagai calon konsumen. Pendengar yang mengalami masalah atau ingin tahu lebih lanjut, bisa langsung berdialog dengan klien. Interaksi secara langsung seperti ini sulit dilakukan di media cetak. Di televisi, talkshow mungkin saja dilakukan, namun biayanya jauh lebih mahal dan belum tentu bisa disiarkan secara live.

4. Mungkin meski kita sudah berbusa memaparkan semua keunggulan itu ke klien, bisa jadi klien berkata: “Ya, tapi tetap saja produk saya tidak terlihat bentuknya.”

Pada situasi seperti inilah kita keluarkan keunggulan radio yang berikutnya: THEATER OF MIND.

Jika dalam spot iklan, adlibs maupun talkshow produk yang dipromosikan bisa terdiskripsikan dengan bagus, gambaran produk bahkan image produk di benak pendengar bisa berkail-kali lipat lebih bagus dari aslinya. Melalui penuturan yang tepat, pendengar sudah bisa membuat gambar atau visualisasi sendiri di benak mereka.

Jadi, hati-hati dengan radio, jika theater of mind terbentuk dengan baik dan pikiran pendengar dikuasai, maka tidak menutup kemungkinan radio bisa menjadi penghasut sejati Tidak percaya? Silahkan mencoba. (radioclinic-Alex Santosa)

Pilih mana? Pendengar atau Pengiklan

BANYAK kesulitan yang dihadapi rekan-rekan pengelola radio dalam menggaet pengiklan. Selain susah mendapatkan pengiklan, radio juga dibenturkan pada posisi tawar yang lemah. Sehingga sering kali radio tidak bisa berbuat apa-apa jika pengiklan meminta fasilitas macam-macam dan menawar harga semurah mungkin.

Mengapa sebuah radio posisi tawarnya lemah dan tidak bisa menjadi pengendali penawaran harga?

Yang kita harus pikirkan adalah, siapa sebenarnya konsumen radio? Pengiklan atau pendengar? Jika kita telaah, yang menjadi konsumen sesungguhnya dari sebuah radio adalah pendengar kita. Sedangkan pengiklan akan secara otomatis menitipkan pesan promosinya jika radio kita memang memiliki banyak pendengar.

Dengan data jumlah pendengar yang kita miliki, pengiklan akan bisa menghitung efisiensi dan efektifitas menggunakan radio kita sebagai sarana promosi. Selain acara yang bagus dan jumlah pendengar yang banyak, ada beberapa hal yang perlu kita perhatikan agar proses selling menjadi lebih mulus.

Mengapa radio tidak meyakinkan pengiklan?

1. Positioning radio yang tidak sesuai realita
2. Tidak mengenali fakta-fakta demografi dan psikografi pendengarnya
3. Deskripsi program tidak menjelaskan keunggulan kompetitif
4. Tidak menjamin ekspektasi pengiklan bahwa radio adalah solusi promosi
5. Informasi tentang radio tersebut minim dan tidak komunikatif
6. Untuk menghindari hal-hal tersebut diatas, maka dibutuhkan berbagai data dan hasil analisa yang bisa menjadi bukti bahwa radio kita adalah media yang handal dan solusi yang tepat bagi pengiklan.

Data dan analisa yang perlu dimiliki dan disiapkan:
1. Potensi pendengar radio
2. Penetrasi radio ke pendengar
3. Perilaku dan psikografi pendengar
4. Periklanan dan industri periklanan
5. Persaingan dengan kompetiter
6. Pengaruh . dampak siaran iklan terhadap pendengar

Sumber data dan analisa bisa diperoleh dari:
1. lembaga riset
2. hasil penelitian berbagai lembaga
3. departemen riset dan development
4. database pendengar
5. respon dan reaksi pendengar
6. kegiatan off air
7. hasil skripsi, thesis, disertasi mahasiswa yang melakukan penelitian di radio kita

Dari data-data dan hasil analisa diatas, kita bisa menyiapkan satu paket data komunikasi bisnis untuk kita ajukan ke pengiklan.

Data yang perlu disiapkan untuk melakukan komunikasi bisnis:
1. Data potensi radio yang sejalan dengan target yang ingin dicapai oleh pengiklan, yaitu data demografi dan psikografi pendengar.

2. Design komunikasi penetratif di radio, terdiri dari bentuk kemasannya, elemen acaranya dan durasinya.

3. Layanan purna jual, seperti intensitas komunikasi untuk menjamin ekspektasi klien dan biaya penyiaran yang memiliki nilai tambah.

4. Melakukan evaluasi dampak iklan / promosi yang dilakukan pengiklan, terdiri dari skala potensi radio terhadap keuntungan klien serta kegiatan renovasi dan inovasi produk siaran.

Selain memiliki data-data kekuatan radio kita, juga perlu kita sadari dan waspadai bahwa selera pendengar selalu berubah. Untuk itu, kenalilah dengan baik dan benar khalayak pendengar kita, melalui riset - pengolahan data - analisa, termasuk pemahaman terhadap peta SWOT radio kita (strength, weakness, opportunity, threat).

Dengan demikian kita akan memiliki pendengar yang benar-benar bisa kita jual ke pemasang iklan. (radioclinic-Alex Santosa)

Radio dan Internet

DATA dari Asosiasi Pengusaha Jasa Internet Indonesia (APJII), menunjukkan bahwa hingga pertengahan tahun 2008 di Indonesia tercatat sekitar 25 juta pengguna internet. Angka ini ditargetkan meningkat hingga 50 juta pengguna pada akhir tahun 2008.

Semakin meningkatnya pengguna internet di Indonesia perlu menjadi perhatian kita yang bergerak di dunia radio, agar tidak tergerus perkembangan tekhnologi. Membangun website interaktif dan radio online, bisa menjadi salah satu cara untuk tetap mengikat pendengar kita yang semakin banyak menghabiskan waktunya untuk ber-internet.

Banyak radio yang sudah memiliki website, namun apakah fungsi dari website radio hanya sebagai media promosi? Idealnya apa isi website tersebut agar bisa lebih mendatangkan manfaat?

Website sebuah radio antara lain bisa diisi dengan:

Non program:
Visi dan misi perusahaan disertai profil pengelola.
Data tekhnis radio dan tarif iklan. Akan lebih mempermudah jika disediakan fasilitas pemasangan iklan dan pengiriman materi iklan secara online.
Arsip kegiatan-kegiatan off air yang pernah diselenggarakan.
Testimonial klien yang pernah menggunakan jasa radio kita.

Program:
Profil acara dan penyiar, lengkap dengan fasilitas agar pendengar bisa berinteraksi langsung ke dalam acara maupun dengan penyiar secara online.

Radio streaming, untuk mengantisipasi pendengar yang sedang berada di luar jangkauan siaran.

Podcast (atau bahkan videocast) acara, agar pendengar yang tidak sempat mendengarkan acara secara langsung bisa mendengarkannya melalui internet di waktu yang berbeda.

Chat room dan forum, agar pendengar bisa saling berkomunikasi satu dengan yang lainnya
Jika memiliki acara berita, kita juga bisa memasukkan naskah berita / informasi yang disiarkan dan rutin memperbaharuinya.

Bisa juga menampilkan promo acara dan rencana kegiatan yang akan dilakukan, serta membuka halaman kritik dan saran.

Fasilitas-fasilitas yang ada dalam website bisa terus dikembangkan. Usahakan untuk melakukan update sesering mungkin, jangan sampai hanya dibuat kemudian ditinggalkan. (radioclinic-Alex Santosa)
Zonaclix - A Place to Earn online!